Pentingnya untuk Mendalami Bahasa Arab

Beberapa artikel membutuhkan Kearifan saat menelaahnya, namun anda bisa membantu perkembangan Blog ini dengan memberi 10 detik waktu anda untuk berbagi..... posted by Muhtar Yahya

Sesungguhnya dalam Bahasa Arab terdapat keistimewaan-keistimewaan, diantaranya : 
perbendaharaannya yang melimpah ruah,…. 
harta simpanannya yang menumpuk,….
mata airnya yang terus mengalir baik di musim hujan maupun musim kemarau ….
serta taman-tamannya yang terus berbunga dan mengeluarkan aroma wanginya yang semerbak…..., 
akan tetapi tidak akan menjumpainya melainkan siapa yang menyelam dalam dasar lautannya yang dalam,…. dan memalingkan wajahnya kearahnya,….. 
mengukur kedalaman hakikat & rahasianya, duduk belajar diantara rumah-rumahnya,….
merindukan akan kehadirannya,……
serta mendatangi mata airnya yang jernih nan bening.

Tidak sebagaimana bahasa-bahasa lainnya yang dapat musnah, Bahasa Arab tidak demikian halnya, dikarenakan diturunkannya Al Qur’an dalam Bahasa Arab, Allah ta'ala berfirman :
“Dan demikianlah kami menurunkan Al Qur’an dalam Bahasa Arab” (Thaha : 113)
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam, dia dibawa turun
oleh Ar ruh Al amin (Jibril), kedalam hatimu (Muhammad ) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan Bahasa Arab yang jelas”. (As Syu’ara ; 192-195)

Umar bin Khatab berkata : “belajarlah Bahasa Arab karena Bahasa Arab itu termasuk dari agama kalian, dan belajarlah Faraidh karena Faraidh itu termasuk dari agama kalian.”
Ibnu Taimiyyah berkata (dalam kitabnya I’thidha shiratal mustaqim) : adapun membiasakan berbicara dengan bahasa selain Bahasa Arab,( yang mana Bahasa Arab adalah syi’ar agama Islam dan bahasa Al Qur’an)
hingga menjadi suatu kebiasaan bagi suatu negeri dan penduduknya, atau penghuni rumah, atau seorang lelaki
kepada sahabatnya, atau pada penghuni pasar, atau pemerintah, atau ahli pembukuan atau ahli fiqih, maka
tidak diragukan lagi hal ini tidak disukai (makruh), karena yang demikian menyerupai orang-orang ajam.
Oleh karena itu kaum muslimin terdahulu tatkala menempati Syam dan Mesir, sedangkan bahasa penduduk kedua negeri itu bahasa Romawi, menempati negeri Iraq dan Khurasan, sedangkan bahasa kedua negeri itu bahasa parsi, menempati negeri Maroko sedangkan bahasa negeri itu bahasa Barbar,
kaum muslimin membiasakan penduduk negeri itu Bahasa Arab, sehingga (seluruh) penduduk negeri itu baik yang muslim maupun yang kafir berbicara Bahasa Arab.

Kemudian mereka meremehkan masalah bahasa (Arab), dan membiasakan berbicara dengan bahasa parsi, sehingga bahasa parsi menguasai mereka, dan menjadilah Bahasa Arab dijauhi mereka. Tidak dapat diragukan lagi bahwa hal ini sesuatu yang tidak disukai. Sesungguhnya jalan yang baik adalah membiasakan berbicara Bahasa Arab, hingga anak-anak kecil mengucapkan Bahasa Arab di kantor-kantor, rumah-rumah
sehingga nampak syiar Islam dan pemeluk agama Islam. Dan yang demikian itu menjadikan lebih mudah bagi kaum muslimin dalam memahami makna-makna Al Qur’an & Sunnah dan perkataan salaf. Berbeda dengan orang yang terbiasa dengan suatu bahasa kemudian ingin berpindah ke bahasa lain maka hal ini akan sulit.

Dan ketahuilah bahwa membiasakan Bahasa Arab akan mempengaruhi akal, akhlak dan agama dengan pengaruh yang kuat dan jelas. Dan akan mempengaruhi juga bagi umat Islam untuk meniru para salaf (yaitu sahabat dan tabi’in), dan dengan meniru mereka, akan menambah akal, agama dan akhlak.

Dan juga karena sesungguhnya nafas Bahasa Arab itu dari agama, dan mengetahuinya adalah kewajiban yang wajib. Maka jika memahami Kitab dan Sunnah adalah wajib, dan tidak bisa dipahami melainkan dengan Bahasa Arab, dan sesuatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya, maka dia itu wajib.

Kemudian Imam Ibnu Taimiyyah melanjutkan perkataannya dalam kitabnya I.thidho Shirathal Mustaqim : “Adapun berbicara dengan bahasa selain Bahasa Arab, dan menamakan bulan-bulan mereka dengan nama selain Bahasa Arab, Abu Muhammad al Karmani berkata : “Bab menamai bulan dengan bahasa Parsi.” Aku (Abu Muhammad al Karmani) berkata kepada Imam Ahmad : ‘Bangsa Parsi mempunyai hari-hari dan bulan-bulan yang mereka menamainya dengan nama-nama yang engkau tidak tahu (bukan Bahasa Arab) !.” Maka imam Ahmad sangat membenci hal itu.

Apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang ketidak sukaan beliau dengan nama-nama (yang bukan berbahasa arab) terdapat dua tujuan :

1. Jika tidak diketahui makna Islam, dan dimungkinkan maknanya haram maka janganlah seorang muslim mengucapkan apa yang tidak ia ketahui maknanya, oleh karena itu makruh mengucapkan rukyah (pengobatan dengan doa) selain dengan Bahasa Arab seperti bahasa Ibrani, Suryaniyah, atau lainnya, karena dikhawatirkan didalamnya terkandung makna-makna yang tidak diperbolehkan.
2. Ketidak sukaan Imam Ahmad akan terbiasanya seseorang berbicara dengan selain Bahasa Arab, karena ucapan Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar penganut agama Islam. Dan bahasa itu termasuk syi’ar yang paling besar pada setiap ummat dan dengannya mereka mempunyai keistimewaan oleh karena itu banyak dari kalangan fuqoha atau sebagian besar dari mereka tidak suka berdo’a dalam sholat dan berdzikir dengan bahasa selain Bahasa Arab.

Imam Syafi’i rahimahullahu berkata dalam satu riwayat : “Allah ta’ala menamakan orang yang mencari karunia-Nya dengan cara jual beli Tujjar (pedagang, bentuk jamak dari tajir ) dan bangsa Arab tetap menamakan mereka dengan kata Tujjar. Kemudian Rasulullah, menamakan mereka sebagaimana Allah ta’ala menamakan mereka yaitu dengan kata Tujjar dengan berbahasa arab. Sedangkan as samasirah (pedagang) adalah bukan Bahasa Arab, dan kami tidak menyukai seseorang yang mengetahui Bahasa Arab menamakan seorang pedagang kecuali dengan kata Tajir (pedagang). Dan janganlah seseorang yang mampu berbicara dengan Bahasa Arab kemudian ia menamakan sesuatu dengan bahasa selain Bahasa Arab, yang demikian itu
dikarenakan bahwa lisan yang dipilih Allah adalah lisan Arab, Allah turunkan kitab-Nya dengan Bahasa Arab dan menjadikan lisan nabi-Nya yang terakhir Muhammad dengan lisan Arab, oleh karena itu kami berkata : sepatutnya bagi orang yang mampu mempelajari Bahasa Arab untuk mempelajarinya, karena Bahasa Arab adalah lisan yang paling utama (yang sepatutnya dicintai oleh seseorang) dengan tanpa mengharamkan bagi seseorang untuk berbicara selain dengan Bahasa Arab.”

Imam Ibnu Taimiyyah berkata : “Imam Syafii tidak menyukai bagi seseorang yang mengetahui Bahasa Arab untuk menamakan (sesuatu) dengan selain Bahasa Arab serta tidak menyukai berbicara dengan Bahasa Arab dan bercampur dengan selain Bahasa Arab. Dan inilah yang diriwayatkan dari para Imam dari kalangan sahabat dan tabi’in.” (lihat mukhtashor I’thido shirotol mustaqim hal 201-206)
Imam Ahmad berkata : “Diantara tanda keimanan orang ajam (non Arab) adalah KECINTAANNYA kepada Bahasa Arab”.

Guru kami Ustad Abdurrahman bin Abdul Karim Attamimi menceritakan, beliau pernah bertemu dengan Dr. Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullahu dalam suatu jamuan makan malam dirumah paman beliau di Surabaya. Dr. Ihsan Ilahi Zhahir berkata : “Saya menguasai beberapa bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa urdu, bahasa Parsi dan bahasa Arab, tetapi bahasa yang saya utamakan dan saya gunakan adalah Bahasa Arab.“

Diantara ulama yang terkenal sebagai ahli Bahasa Arab dan dipuji sebagai Imam Bahasa Arab adalah Muhammad bin Idris As Syafi’i yang terkenal dengan nama Imam
Syafi’i. Berkata Al Hafidh Abu Nu’aim bin Abdil Malik bin Muhammad bin Adi : “Saya mendengar Rabi’ berulang kali mengatakan” : “Kalau engkau melihat Syafi’i beserta penjelasan dan kefasihannya yang sangat bagus, tentu engkau akan kagum. Kalau seandainya ia mengarang kitab-kitab dengan Bahasa Arab yang ia ucapkan dalam diskusinya, tentu kita tidak akan mampu membaca kitab-kitabnya lantaran fasih dan lafadh-lafadhnya yang aneh”. Hanya saja beliau memudahkan dalam karangannya untuk orang awam.” (siyar alamun nubala jilid 10 hal 74) .

Berkata Rabi bin Sulaiman : “Demi Allah, lisan Syafi’i lebih besar dari kitab-kitabnya, kalau seandainya kalian melihatnya (ketika berkhutbah) tentu akan berkata : Ini bukan kitab-kitabnya”. (siyar alamun nubala jilid 10 hal 48) .
Suatu kali datang seorang lelaki kepada Imam Syafii dan berkata : “Sungguh sahabat-sahabat Abu Hanifah adalah orang-orang yang fasih”, maka Imam syafii mengucapkan bait-bait syiir (yang isinya menunjukkan
keunggulan dirinya dalam kefasihan Bahasa Arab) :
Andaikata seorang alim itu tidak tercela lantaran dijuluki sebagai seorang penyair dan hal itu mengurangi kehormatannya tentu aku pada hari ini lebih mahir bersyiir dari labid bin rabi’ah
Dan aku paling berani di medan pertempuran dari segala pemberani dan paling kuat dari segala singa. Kalaulah bukan karena takut kepada Ar Rahman Rabbku Saya mangira seluruh manusia akan menjadi budak dan pembantuku.

Bahasa Arab adalah bahasa Agama Islam dan bahasa Al Qur’an, dan tidak akan dapat memahami kitab dan
Sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewangan) kecuali dengan Bahasa Arab.
Bahasa Arab adalah sesuatu yang diperlukan dalam agama Islam, dengan menyepelekan dan menggampangkan Bahasa Arab maka mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil dalam masalah agama.

Adalah suatu hal yang sangat ironis, di sekolah-sekolah di negeri kita, Bahasa Arab tersisihkan oleh bahasa-bahasa lain, padahal mayoritas penduduk negeri kita adalah beragama Islam, sehingga keadaan kaum muslimin di negeri kita Indonesia sebagaimana yang kita lihat, jauh dari tuntunan Allah ta'ala dan RasulNya. Dan hanya kepada Allah-lah kita mohon pertolongan, dan padaNya kita menyampaikan keluhan, serta tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah ta'ala.

Oleh : Abu hasan Arif
Disalin dari Adz-Dzakhiirah edisi 02Dzulqo'dah 1423H