Welcome to Afghanistan Hilman ( Sebuah Jurnal Perjalanan Misi Kemanusiaan )

Bismillahirohmanirohim…
Akhirnya kutekadkan untuk mulai menulis lagi pengalamanku yang saat ini membawaku untuk misi kemanusiaan di Afghanistan selama setahun. Sekalian media curhat kepada keluarga di tanah air. Versi cerita yang mungkin lebih lengkap dari sekedar sms atau bbm yang biasa dilakukan. Disamping itu juga, aku penuhi janjiku kali ini kepada Kang Luigi yang sudah kehabisan akal memotivasiku dalam pemogokan menulis selama 2 tahun lebih.

Perjalananku dimulai dari Cengkareng saja biar tidak terlalu panjang. ETD pesawat yang kutumpangi adalah jam 17:45. Setelah check in dan memasukkan luggage pada pukul 15:30, aku sempatkan sholat agar perjalanan ini diberikan keselamatan sampai tujuan, kali ini doaku ba’da sholat agak panjang maklum berita baris di TV tentang Afghanistan yang merupakan highly risk exposed area tidak ada yang melegakan; berita terakhir malah markas UNHCR jadi sasaran bom bunuh diri, 3 staff UN tewas seketika. Walaupun keluarga yang ditinggalkan merasa sedikit ketar-ketir akan keselamatanku disini, ada hal yang akan membuat si eneng nyerengeh (baca: nyengir) di rumah merasa lega, misiku kali ini di Afghanistan sudah dipastikan absen weekend di pantai bersama expat wanita yang berpakaian ala Kiki Fatmala, Giti Srinita, dkk di film warkop DKI, seperti pada misi sebelumnya di Liberia. Afghanistan adalah Negara Islam yang ketat dimana aurat wanita tidak dapat diumbar semaunya di tempat publik. Disamping itu juga, yang membuat bersantai pantai ala warkop DKI tidak dimungkinkan disebabkan karena Afghanistan adalah “landlocked country” – Negara daratan yang tidak berpantai – makanya warkop DKI gak pernah syuting disini hehe.

Kira-kira jam 16:00, aku bergegas untuk boarding , rupanya antrian di imigrasi cukup panjang berhubung pada saat yang sama banyak juga TKI dengan penerbangan yang sama menuju Dubai. Petugas imigrasi kita memang terlatih untuk lebih teliti dan tegas (baca:judes) jika berhadapan dengan para “pahlawan devisa” ini sehingga membuat waktu antri lebih lama, mungkin SOPnya seperti itu kali ya. 

Kemudian, tibalah giliranku setelah menunggu sekitar 20 menit, garis kuning batas antrian akhirnya kukangkangi. Biasanya proses imigrasi ini lancar-lancar saja mungkin dekorasi visa dari beberapa negara yang pernah aku kunjungi cukup meyakinkan petugas imigrasi. Seperti biasa petugas imigrasi melontarkan pertanyaan standar seperti “Mau apa ke Afghanistan?” kujawab bahwa aku pekerja kemanusiaan yang bekerja di sebuah LSM asing . Diluar dugaan petugas ini menjawab “Maaf mas, tanpa kartu KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri) , anda tidak bisa”. Apa-apaan ini dalam hatiku membatin, terasa rembesan keringat dinginku menyeruak, terbayang mengurus KTKLN ini bisa berjam-jam karena dipersulit petugas yang berlagak penting atau mungkin tidak bisa selesai sehari dan penerbanganku ini terancam terlewatkan. Sambil berlagak tenang “Maaf mas, sebelumnya saya tidak pernah diminta KTKLN?” aku balik bertanya. “Maaf ini aturan baru. tanpa KTKLN anda tidak bisa” ujar si petugas. 

Tidak ada gunanya berargumentasi aku akan coba membuat kartu tersebut, ataupun jika gagal aku akan masuk antrian lain tanpa mengaku akan bekerja; pokoknya bagaimanapun caranya aku harus naik pesawat sesuai jadwal. Kemudian aku bergegas menuju loket pembuatan kartu yang letaknya lumayan juga memakan waktu, karena posisnya hampir diujung. Alhamdulillah, pembuatan kartu ini ternyata tidak sulit , cepat dan bebas biaya. Padahal sudah su’udzan sama petugas pemerintah tuh… maaf ya mas, ini akibat cuci otak media kita kalau semua petugas pemerintah lamban, doyan mempersulit, dan korupsi. Anyway, resmi sudah aku jadi TKI yang siap bekerja di keluarga emir di Arab Saudi heuheuey..:). Kemudian aku pindah ke loket lain untuk validasi passport, setelah menunjukkan kartu KTKLN. By the way, serius lho sanksinya jika tidak punya kartu KTKLN ini.

Tak terasa, penerbangan selama 8 jam Jakarta – Dubai bersama Emirates. Kali ini beruntung banyak seat kosong sampai-sampai bisa selonjoran karena 5 seat tidak ada orangnya kecuali diriku sendiri, wah senangnya bayar 1 tiket dapat 5 seat. Setelah mendarat, privilege blackberry messenger sudah tak berfungsi karena roaming international tidak diaktivasi. Walaupun pulsa sudah mepet dan baterai sudah menipis beberapa sms aku layangkan untuk member kabar ke keluarga di tanah air. Kemudian, connecting flight aku lanjutkan dengan Fly Dubai yang mengharuskan pindah terminal dari terminal 3 ke terminal 2 yang lebih kecil. Transfer antar terminal tersebut cukup mudah dengan shuttle bus yang nyaman. Jam tanganku menunjukkan jam 02:30 WIB - masih diset GMT +7 – pantesan ngantuk. Setelah membeli minuman dan camilan di “Duty Free Market” – yang tetep aja mahal dibanding indomart di Indonesia. 

Sejenak kuamati profil penumpang tujuan Afghanistan, yang diantaranya cukup tipikal: mata bureuleuk (red: sunda untuk mata seperti orang arab, atau belo dalam bahasa Indonesia kayaknya) , hidung mancung, dan berewokan mirip jenggot pemilik metro tv dengan baju gamis lengkap dengan rompi dan peci bundar. Transit 5 jam memang bosan apalagi tidak ada lapak yang memungkinkan untuk bisa tidur sejenak; semua kursi memiliki sandaran lengan yang membuat aksi selonjoran tidak memungkinkan. Akhirnya, penantian 5 jam tamat sudah, penerbangan berlanjut dengan Fly Dubai menuju Kabul sekitar 2,5 jam. Tampaknya Fly Dubai ini mirip dengan Air Asia dimana makanan dan minuman diasong-asongkan oleh mba pramugarinya. AC terlalu dingin akhirnya aku pesan juga ‘hot chocolate’ yang ternyata si mba pramugari mengambil 1 sachet Milo instant 3 in 1 yang biasa kubeli di Indomart untuk stock si eneng di rumah, hanya saja air panasnya overdosis membuat rasa manis dan coklatnya ‘gantung’ gak jelas. Berbeda dengan versi rumah yang menggunakan sedikit air atau combo Milo – 2 sachet Milo agar sensasi coklat serta manisnya padu dan mantap.

Pemandangan sebelum mendarat, tampak pegunungan Hindukush yang indah tapi tampak kering kurang vegetasi ciri khas iklim semi arid atau kurangnya air untuk menopang tumbuhan atau hewan. Tibalah pendaratan di Kabul International airport (KIA), Alhamdulillah aku selamat sampai Kabul. Saat itu temperatur di Kabul 8o C seperti diinformasikan Pilot sesaat sebelum landing, dinginnya cukup menusuk, setelah turun pesawat tampak sebuah bus penumpang yang siap menunggu. Bus pembawa penumpang ini tidak dilengkapi pengahangat jadi tiang-tiang dan hand rail untuk berpengangan tidak bisa dijadikan tempat peganganan ataupun sandaran karena sensasi dinginnya seperti memegang ‘dry ice’ . Kalau di Indonesia sekilas KIA ini mirip bandara Polonia, Medan. Bandaranya cukup kecil, begitu masuk bandara ujug-ujug antrian imigrasi. Beberpa langkah setelah melewati imigrasi, seorang petugas memberikan isyarat agar aku mendekat, pada dasarnya orang asing yang baru datang diharuskan untuk melakukan registrasi . Hal ini sudah kuketahui melalui penjelasan travel guide yang diberikan kantor cukup jelas menginformasikan proses registrasi yang harus dilakukan. Form diberikan untuk mengisi data-data pribadi, setelah terisi dan memberikan 2 buah foto, tak lama petugas tersebut memberikan kartu tersebut lengkap dengan stempel Ministry of Interior (red: Kemendagri). Kartu registrasi ini penting karena mungkin selain passport, kartu ini mungkin diminta jika sekiranya diperiksa kelengkapan identitas oleh pihak berwajib. 

Travel guide untuk proses penjemputan cukup detail mengarahkan untuk menuju Parking Lot C dimana supir penjemput menunggu. Baru kali ini koper galabag (baca: oversize) yang berisi peralatan artileriku selama satu tahun diseret cukup jauh, tangan kanan berganti kiri karena cukup beratnya koper tersebut apalagi medan yang ditempuh tidak smooth. Setelah berjalan mengikuti petunjuk tibalah aku ditempat parkiran. Ada beberapa orang yang langsung dijemput dan ada beberapa sopir taxi mencoba menawarkan jasanya. Aku sempat bertanya kepada seorang sopir taxi – seorang kakek tua yang berjenggot lebat - untuk memastikan bahwa aku ditempat yang tepat “Is this parking lot C?” , dia menganggukan kepala tanda dugaanku memang benar, bagus lah sekalian aku tidak usah menyeret-nyeret koper galabag besarku ini. Setelah menunggu sekitar 20 menit, rupanya tak kunjung datang mobil jemputanku ini. juga tak ada tanda-tanda kendaraan berlogo organisasi tempatku bekerja. Disamping indikator blackberry yang sudah merah, pulsaku hanya cukup untuk mengirim satu sms saja akibat dari bersms ria di Dubai padahal cadangan pulsa tipis. Akhirnya aku kirimkan satu-satunya sms ke Admin di kantor “ Hi, Salim, it’s Hilman, I arrived at the airport but I haven’t seen any driver/car to pick me up. Could you kindly send someone to pick me up? It’s my last credit don’t try to call me. Thanks”. Walhasil si Salim Suralim ini malah reply sms bertubi-tubi dengan beberapa pertanayaan retorik karena tak cukup pulsa untuk membalas: “Hilman, where are you? Are you at parking lot C”; sejurus kemudian “Can I call you?”, rupanya closure sms ku sebelumnya kurang jelas memberikan pernyataan bahwa pulsa habis…bis. 

Mungkin karena aku tampak kebingungan seorang aki-aki berjenggot lebat yang tak lain adalah supir taxi yang sebelumnya aku tanya, menawarkan jasanya dan mencoba mengetahui apa yang terjadi padaku. Cara si aki ini berkomunikasi tampaknya merupakan kombinasi 85% bahasa tubuh, 5% bahasa inggris dan 10% telepati atau ‘ngahuleng’ dalam bahasa sunda walaupun agak tebak-tebak buah manggis bisa dipahami maksudnya. Setelah beberapa lama berdiri bersama si aki tanpa sepatah kata, “Tring…tring..” terbersit ide untuk meminjam handphone si aki taxi ini dengan kembali menggunakan kombinasi berbagai bahasa dan telepati tadi. Aku coba bernegosiasi pada si aki untuk meminjamkan handphonenya dengan imbalan uang 1 USD, rupanya kalau urusan duit cepet ngerti ini aki. ”NO. 5 dollar for telephone, with dinar ..euro OK” jawab si aki ini. Sialan dikerjain si aki nih, jadi inget haji Bolot yang cuma ngeh kalau udah urusan duit. Aku jawab “No problem, here I give you 5 euro” uang sisa training ke Spanyol tahun lalu. Tampak senang hati dan sumringah si aki menerima uang 5 euro karena lebih besar dari US dollar. Padahal sebetulnya, uang 5 Euro itu sudah direject oleh beberapa money changer di Indonesia berhubung sudah sobek dan disambung selotip hehehe .. Gak tega juga sm si aki ini aku kasih tambahan 1 dollar, jikalau uang tadi gak laku – harga yang pantas untuk menelepon selama kurang dari satu menit sudah kuberikan. Setelah berhasil menelepon admin kantorku, si Salim Suralim ini memberikan no telepon supir penjemput yang ternyata tidak bisa berbahasa inggris – eh sama juga bohong atuh. Eh no problem kan, ada si aki taxi itu, pasti mau bantu karena sudah menerima uang 5 euro yang robek hehehe *mudah-mudahan bisa dituker tuh duit, masih merasa bersalah*. Aku minta si aki ini untuk mengontak langsung supir tersebut dan menanyakan keberadaanya. Setelah berbicara dalam bahasa lokal, akhirnya si aki ini menyuruhku berjalan menuju parking Lot C, karena selama ini aku berada di parking lot B. Dasar planet of the apes (baca: planet tempat orang2 apes seperti saya) perasaan tadi ditanya ini parking lot C, si aki ini ngangguk…euh dasar aki-aki tujuh mulud. Inilah akibat terlalu mengandalkan bahasa tubuh dan telepati untuk komunikasi. Wah sudah deh let bygone be obat nyamuk, setelah ditunjukkan arah parking lot C, aku berjalan menyeret-nyeret koper galabag kembali, ternyata parking lot C masih sekitar 5 menit perjalanan. 

Ketika tiba di parking lot C, tampak logo organisasi tempatku bekerja diacung-acungkan oleh seorang laki-laki. Setelah saling sapa kemudian kami menuju mobil penjemputan. Sebuah hape nokia jadul diberikan supir tersebut agar aku menghubungi security advisor di organisasi kami, untuk mengkonfirmasi kedatanganku sebelum memasuki mobil. Salah satu protokol keamanan yang harus dipatuhi agar tidak terjadi penculikan warga asing/salah jemput. Ternyata mobil jemputan ini tidak berlogo seperti layaknya mobil organisasi kemanusiaan, belakangan diketahui hal ini untuk faktor keamanan agar bisa berbaur dengan kendaraan lain dan tidak menjadi target pihak-pihak tertentu. Dalam perjalanan menuju kantor, jalan besar semacam tol dilalui kemudian lepas jalan besar memasuki area di kantorku, jalannya sudah melalui proses pemadatan dengan motif random hump memberikan efek ajrut-ajrutan. Kantorku ternyata ditempuh dalam waktu kurang dari 20 menit, memasuki pintu gerbang ternyata teradapat gerbang berikutnya. Ketika aku turun kemudian security guard meminta surat registrasiku sebelum membuka gerbang berikutnya. Salam, welcome to Afghanistan Hilman, your journey in Afghanistan starts now! Do your best, may your work shed new hope and goodness for the Afghani, Amin.

bersambung..insya allah

11:30 PM Kabul, 4 November 2011

by Aa Hilman

(Note : Penulis adalah sahabat admin semasa sekolah dan dia sekarang bekerja di salah satu Organisasi Kemanusiaan )